Antara Mudik, Ibu Ani Yudhoyono, dan Cinta Sejati

Mempelai.Info Mudik adalah tradisi setiap menjelang hari raya Idul Fitri. Orang-orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Mudik seperti gawai yang sedang dicas. Ia memberi energi baru bagi batin kita, di mana selama kurang lebih seminggu kita menyambung silaturahmi ke keluarga dan kerabat.

Mudik membawa bekal

Aktivitas mudik diwarnai dengan membawa bekal berupa oleh-oleh. Gak jarang kita lihat di jalan tol Jakarta-Cikampek, mobil pribadi membawa banyak barang di atapnya. Bahkan kayak sebuah keharusan kita membawa amplop kecil berisi angpau untuk dibagi-bagi ke deretan sepupu yang masih kecil. Biasanya merupakan apresiasi karena udah berpuasa seharian penuh meski cuma sepuluh atau dua puluh hari.

Sabtu kemarin, kita dikagetkan dengan berita berpulangnya Ibu Ani Yudhoyono, istri Presiden RI keenam SBY. Seluruh Indonesia merasa kehilangan, dan terbawa arus duka yang terpancar jelas dari Pak SBY dan kedua putranya. Kejadian ini semakin menegaskan anggapan bahwa kematian adalah pelajaran untuk yang hidup.

Ya, Ibu Ani udah mudik untuk selamanya ke akhirat, kampung abadi para manusia. Kematian tokoh selalu menggetarkan, jadi hendaknya kita gunakan momen ini untuk bercermin: bekal apa yang akan kita bawa nanti?

Baca: Ketika Kamu Kehilangan Pasangan Hidup, What Should You Do?

Pelajaran cinta dari Ibu Ani

Ada sisi lain dari kesedihan yang terekam dari Pak SBY dan kedua putranya. You cannot replace the love of your life, ever. Ibu Ani adalah bukti sahih tulusnya cinta seorang istri dan ibu sekaligus. Mata-mata bengkak yang kita lihat, mengungkap kesenduan karena mereka udah merindukan Ibu Ani sejak ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Look at your spouse. He/she might not perfect. Rumah tangga selalu punya problem, dan sifatnya selalu sama dari masa Adam dan Hawa. Berargumenlah secara sehat. Setelah itu, cintai dia lebih dari sebelumnya.

Baca juga: Pertengkaran dalam Rumah Tangga? Ini Rules of the Game-nya

Lihat ibu kita. Tanyakan kabarnya. Tak lebih dari lima menit video call. Hidup kita sebagian tergantung pada kerelaan hatinya. Jangan salah fokus ya. Bukan performa kerja penentu utama kesuksesan kita, tapi pada seberapa besar effort kita dalam menyenangkan hati ibu kita.

Akhirnya, hasil dari refleksi diri hanya bisa dijalankan oleh diri kita masing-masing. Ibu Ani udah mudik duluan, meninggalkan segambreng hikmah tentang bekal pulang dan cinta. Semoga kita yang hidup, bisa belajar dan berbenah darinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *